April 28, 2014

Sajak yang berteriak


Mungkin ini adalah waktu yang tepat,
mengungkapkan semua yang belum sempat,
tentang anggapan yang membuat sekarat,
sehingga kebaikan ku sudah tertutup rapat.

Luapan rasa ini seperti mau meledak,
disana sini aku sudah seperti tak tampak,
dimana mana hanya membuatku semakin retak,
ingin rasanya diselesaikan dengan berteriak!

Awalnya kalian menganggapku baik,
tapi kini seakan kalian memandangku licik,
dulu kita menghabiskan waktu bersama,
kini itu hanyalah sebuah cerita lama.

Kalian anggap aku punya banyak modusan,
padahal aku hanya ingin berteman,
kalian pandang aku sebagai playboy kacangan,
padahal aku hanya mencari arti keharmonisan.

Mungkin yang kalian tau aku dari keluarga mampu,
tapi keringat ini mengalir sebagai saksi bisu,
apa yang kini kalian bayangkan itu palsu,
aku hanyalah anak bukan dari keluarga yang utuh.

Aku hanya ingin terus dan terus belajar,
bukan maksud diri menjadi kurang ajar,
aku hanya ingin mencari tantangan baru nan segar,
supaya masa indahku lebih tergambar.

Aku hanya mencoba menjadi pribadi yang ramah,
tapi respon kalian seakan membuatku terjamah,
aku hanya ingin jadi pribadi penuh senyum,
karena ilmu tertinggi adalah ilmu untuk maklum.

Ini bukan hal tentang siapa yang sok tampan,
tapi ini adalah hal siapa yang bisa lebih mapan,
karena aku belajar dari arti kedewasaan,
aku bukan lagi anak kecil yang mudah ngambekan.

Tanpa alasan yang jelas aku tak mau menghakimi,
karena kini yang aku lakukan hanya mencoba memahami,
semua orang bisa tahu, tapi tidak semua orang mengerti,
karena aku, tidak mau berteriak seperti ini lagi :')

0 komentar:

Post a Comment

 
;